Pengertian Semantik
Pengertian semantik dan contohnya lengkap
Apakah Semantik Itu?
Ada dua cabang utama linguistik a tataran analisis bahasa: fonologi,
gramatika, dan semantik (Chaer, 1994: 2).
Sebuah kata, misalnya buku, terdiri atas unsur lambang bumyi yaitu
[b-u-k-u] dan konsep atau citra mental benda-benda (objek) yang dinamakan buku.
Menurut Ogden dan Richards (1923), dalam karya klasik tentang “teori semantik
segi tiga” , kaitan antara lambang, citra mental atau konsep, dan referen atau
objek dapat dijelaskan dengan gambar dan uraian sebagai berikut.
dengan kata buku. Gambar di samping menunjukkan bahwa di antara lambang
bahasa dan konsep terdapat hubungan langsung, sedangkan lambang bahasa dengan
referen atau objeknya tidak berhubungan langsung
(Makna kata buku adalah konsep buku yang tersimpan dalam otak kita
dan dilambangkan digambarkan dengan garis putus-putus) karena harus melalui
konsep. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa semantik mengkaji makna tanda bahasa,
yaitu kaitan antara konsep dan tanda bahasa yang melambangkannya.
Dalam analisis semantik juga harus disadari, karena bahasa itu bersifat
unik, dan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan masalah budaya maka,
analisis suatu bahasa hanya berlaku untuk bahasa itu saja, tetapi tidak dapat
digunakan untuk menganalisis bahasa lain. Umpamanya, kata ikan dalam
bahasa Indonesia merujuk pada jenis binatang yang hidup dalam air dan biasa
dimakan sebagai lauk; dan dalam bahasa Inggris separan dengan fish. Tetapi
kata iwak dalam bahasa Jawa bukan hanya berarti ‘ikan’ atau ‘fish’,
melainkan juga berarti daging yang digunakan sebagai lauk.
Hakikat Makna
Menurut teori yang dikembangkan dari pandangan Ferdinand de Saussure, makna
adalah ’pengertian’ atau ’konsep’ yang dimiliki atau terdapat pada sebuah
tanda-linguistik. Menurut de Saussure, setiap tanda linguistik terdiri dari dua
unsur, yaitu (1) yang diartikan (Perancis: signifie, Inggris: signified)
dan (2) yang mengartikan (Perancis: signifiant, Inggris: signifier).
Yang diartikan (signifie, signified) sebenarnya tidak lain dari
pada konsep atau makna dari sesuatu tanda-bunyi. Sedangkan yang mengartikan
(signifiant atau signifier) adalah bunyi-bunyi yang terbentuk dari fonem-fonem
bahasa yang bersangkutan. Dengan kata lain, setiap tanda-linguistik terdiri
dari unsur bunyi dan unsur makna. Kedua unsur ini adalah unsur dalam-bahasa
(intralingual) yang biasanya merujuk atau mengacu kepada sesuatu referen yang
merupakan unsur luar-bahasa (ekstralingual).
Yang menandai (intralingual) yang ditandai (ekstralingual)
Dalam bidang semantik istilah yang biasa digunakan untuk tanda-linguistik
itu adalah leksem, yang lazim didefinisikan sebagai kata atau frase yang
merupakan satuan bermakna (Harimurti, 1982:98). Sedangkan istilah kata,yang
lazim didefinisikan sebagai satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri yang dapat
terjadi dari morfem tunggal atau gabungan morfem (Harimurti, 1982:76) adalah
istilah dalam bidang gramatika. Dalam makalah ini kedua istilah itu dianggap
memiliki pengertian yang sama.
Yang perlu dipahami adalah tidak semua kata atau leksem itu mempunyai acuan
konkret di dunia nyata. Misalnya leksem seperti agama, cinta, kebudayaan, dan
keadilan tidak dapat ditampilkan referennya secara konkret. Di dalam
penggunaannya dalam pertuturan, yang nyata makna kata atau leksem itu
seringkali, dan mungkin juga biasanya, terlepas dari pengertian atau konsep
dasarnya dan juga dari acuannya. Misal kata buaya dalam kalimat (1).
(1). Dasar buaya, ibunya sendiri ditipunya.
Oleh karena itu, kita baru dapat menentukan makna sebuah kata apabila kata
itu sudah berada dalam konteks kalimatnya. Makna sebuah kalimat baru dapat
ditentukan apabila kalimat itu berada di dalam konteks wacananya atau konteks
situasinya. Contoh, seorang setelah memeriksa buku rapor anaknya dan melihat
angka-angka dalam buku rapor itu banyak yang merah, berkata kepada anaknya
dengan nada memuji.
(2). ”Rapormu bagus sekali, Nak!”
Jelas, dia tidak bermaksud memuji walaupun nadanya memuji. Dengan kalimat
itu dia sebenarnya bermaksud menegur tau mungkin mengejek anaknya itu.
Makna kata
Menurut Chaer (1994), makna dapat dibedakan berdasarkan beberapa kriteria
dan sudut pandang. Berdasarkan jenis semantiknya, dapat dibedakan antara makna
leksikal dan makna gramatikal, berdasarkan ada atau tidaknya referen pada
sebuah kata atau leksem dapat dibedakan adanya makna referensial dan makna
nonreferensial, berdasarkan ada tidaknya nilai rasa pada sebuah kata/leksem
dapat dibedakan adanya makna denotatif dan makna konotatif, berdasarkan
ketepatan maknanya dikenal makna kata dan makna istilah atau makna umum dan
makna khusus. Lalu berdasarkan kriteri lain atau sudut pandang lain dapat
disebutkan adanya makna-makna asosiatif, kolokatif, reflektif, idiomatik dan
sebagainya.
Makna Leksikal dan Makna Gramatikal
Leksikal adalah bentuk adjektif yang diturunkan dari bentuk nomina
leksikon. Satuan dari leksikon adalah leksem, yaitu satuan bentuk bahasa yang
bermakna. Kalau leksikon kita samakan dengan kosakata atau perbendaharaan kata,
maka leksem dapat kita persamakan dengan kata. Dengan demikian, makna leksikal
dapat diartikan sebagai makna yang bersifat leksikon, bersifat leksem, atau
bersifat kata. Lalu, karena itu, dapat pula dikatakan makna leksikal adalah
makna yang sesuai dengan referennya, makna yang sesuai dengan hasil observasi
alat indera, atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita (Chaer,
1994). Umpamanya kata tikus makna leksikalnya adalah sebangsa binatang pengerat
yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit tifus. Makna ini tampak jelas dalam
kalimat Tikus itu mati diterkam kucing,
atau Panen kali ini gagal akibat serangan hama
tikus.
Makna leksikal biasanya dipertentangkan dengan makna gramatikal. Kalau
makna leksikal berkenaan dengan makna leksem atau kata yang sesuai dengan
referennya, maka makna gramatikal ini adalah makna yang hadir sebagai akibat
adanya proses gramatika seperti proses afiksasi, proses reduplikasi, dan proses
komposisi (Chaer, 1994). Proses afiksasi awalan ter- pada kata angkat dalam
kalimat Batu seberat itu terangkat juga oleh adik, melahirkan makna
’dapat’, dan dalam kalimat Ketika balok itu ditarik, papan itu terangkat ke
atas melahirkan makna gramatikal ’tidak sengaja’.
3.2 Makna Referensial dan Nonreferensial
Perbedaan makna referensial dan makna nonreferensial berdasarkan ada tidak
adanya referen dari kata-kata itu. Bila kata-kata itu mempunyai referen, yaitu
sesuatu di luar bahasa yang diacu oleh kata itu, maka kata tersebut disebut
kata bermakna referensial. Kalau kata-kata itu tidak mempunyai referen, maka
kata itu disebut kata bermakna nonreferensial. Kata meja termasuk kata
yang bermakna referensial karena mempunyai referen, yaitu sejenis perabot rumah
tangga yang disebut ’meja’. Sebaliknya kata karena tidak mempunyai
referen, jadi kata karena termasuk kata yang bermakna nonreferensial.
3.3 Makna Denotatif dan Konotatif
Makna denotatif pada dasarnya sama dengan makna referensial sebab makna
denotatif lazim diberi penjelasan sebagai makna yang sesuai dengan hasil
observasi menurut penglihatan, penciuman, pendengaran, perasaan, atau
pengalaman lainnya. Jadi, makna denotatif ini menyangkut informasi-informasi
faktual objektif. Oleh karena itu, makna denotasi sering disebut sebagai ’makna
sebenarnya’(Chaer, 1994). Umpama kata perempuan dan wanita kedua
kata itu mempunyai dua makna yang sama, yaitu ’manusia dewasa bukan laki-laki’.
Sebuah kata disebut mempunyai makna konotatif apabila kata itu mempunyai
”nilai rasa”, baik positif maupun negatif. Jika tidak memiliki nilai rasa maka
dikatakan tidak memiliki konotasi. Tetapi dapat juga disebut berkonotasi
netral. Makna konotatif dapat juga berubah dari waktu ke waktu. Misalnya kata ceramah
dulu kata ini berkonotasi negatif karena berarti ’cerewet’, tetapi sekarang
konotasinya positif.
Makna Kata dan Makna Istilah
Setiap kata atau leksem memiliki makna, namun dalam penggunaannya makna
kata itu baru menjadi jelas kalau kata itu sudah berada di dalam konteks
kalimatnya atau konteks situasinya. Berbeda dengan kata, istilah
mempunyai makna yang jelas, yang pasti, yang tidak meragukan, meskipun tanpa
konteks kalimat. Oleh karena itu sering dikatakan bahwa istilah itu
bebas konteks. Hanya perlu diingat bahwa sebuah istilah hanya digunakan pada
bidang keilmuan atau kegiatan tertentu. Perbedaan antara makna kata dan istilah
dapat dilihat dari contoh berikut
(1) Tangannya luka kena pecahan kaca.
(2) Lengannya luka kena pecahan kaca.
Kata tangan dan lengan pada kedua kalimat di atas adalah
bersinonim atau bermakna sama. Namun dalam bidang kedokteran kedua kata itu
memiliki makna yang berbeda. Tangan bermakna bagian dari pergelangan
sampai ke jari tangan; sedangkan lengan adalah bagian dari pergelangan
sampai ke pangkal bahu.
Makna Konseptual dan
Makna Asosiatif
Leech (1976) membagi makna
menjadi makna konseptual dan makna asosiatif. Yang dimaksud dengan makna
konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks
atau asosiasi apa pun. Kata kuda memiliki makna konseptual ’sejenis
binatang berkaki empat yang biasa dikendarai’. Jadi makna konseptual
sesungguhnya sama saja dengan makna leksikal, makna denotatif, dan makna
referensial.
Makna asosiatif adalah makna yang
dimiliki sebuah leksem atau kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu
dengan sesuatu yang berada di luar bahasa. Misalnya, kata melati
berasosiasi dengan sesuatu yang suci atau kesucian.
Makna
Idiomatikal dan Peribahasa
Idiom adalah satuan ujaran yang maknanya tidak dapat ”diramalkan” dari
makna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun secara gramatikal. Contoh
dari idiom adalah bentuk membanting tulang dengan makna ’bekerja keras’,
meja hijau dengan makna ’pengadilan’.
Berbeda dengan idiom, peribahasa memiliki makna yang masih dapat ditelusuri
atau dilacak dari makna unsur-unsurnya karena adanya ”asosiasi” antara makna
asli dengan maknanya sebagai peribahasa. Umpamanya peribahasa Seperti anjing
dengan kucing yang bermakna ’dikatakan ihwal dua orang yang tidak pernah
akur’. Makna ini memiliki asosiasi, bahwa binatang yang namanya anjing dan
kucing jika bersua memang selalu berkelahi, tidak pernah damai.
Makna Kias
Dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan istilah arti kiasan digunakan
sebagai oposisi dari arti sebenarnya. Oleh karena itu, semua bentuk bahasa
(baik kata, frase, atau kalimat) yang tidak merujuk pada arti sebenarnya (arti
leksikal, arti konseptual, atau arti denotatif) disebut mempunyai arti kiasan.
Jadi, bentuk-bentuk seperti puteri malam dalam arti ’bulan’, raja
siang dalam arti ’matahari’.
Relasi Makna
disebut relasi makna. Relasi makna dapat berwujud macam-macam. Berikut ini
diuraikan beberapa wujud relasi makna.
Secara semantik Verhaar (1978) mendefinisikan sinonimi sebagai ungkapan
(bisa berupa kata, frase, atau kalimat) yang maknanuya kurang lebih sama dengan
makna ungkapan lain. Umpamanya kata buruk dan jelek adalah du buah kata yang
bersinonim; bunga, kembang, dan puspa adalah tiga kata yang yang bersinonim.
Hubungan makna antara dua buah kata yang bersinonim bersifat dua arah. Namun,
dua buah kata yang bersinonim itu; kesamaannya tidak seratus persen, hanya kurang
lebih saja. Kesamaannya tidak bersifat mutlak.
Antonimi dan Oposisi
Secara semantik Verhaar (1978) mendefenisikan antonimi sebagai: Ungkapan
(biasanya berupa kata, tetapi dapat pula dalam bentuk frase atau kalimat) yang
maknanya dianggap kebalikan dari makna ungkapan lain. Misalnya kata bagus
yang berantonimi dengan kata buruk; kata besar berantonimi dengan
kata kecil.
Sama halnya dengan sinonim, antonim pun tidak bersifat mutlak. Itulah
sebabnya dalam batasan di atas, Verhaar menyatakan ”…yang maknanya dianggap
kebalikan dari makna ungkapan lain” Jadi, hanya dianggap kebalikan. Bukan
mutlak berlawanan.
Sehubungan dengan ini banyak pula yang menyebutnya oposisi makna. Dengan
istilah oposisi, maka bisa tercakup dari konsep yang betul-betul berlawanan sampai
kepada yang bersifat kontras saja. Kata hidup dan mati, mungkin
bisa menjadi contoh yang berlawanan; tetapi hitam dan putih
mungkin merupakan contoh yang hanya berkontras.
Homonimi, Homofoni, dan Homografi
Homonimi adalah ‘relasi makna antar kata yang ditulis sama atau dilafalkan
sama, tetapi maknanya berbeda’. Kata-kata yang ditulis sama tetapi maknanya
berbeda disebut homograf, sedangkan yang dilafalkan sama tetapi berbeda makna
disebut homofon. Contoh homograf adalah kata tahu (makanan) yang berhomografi
dengan kata tahu (paham), sedang kata masa (waktu) berhomofoni dengan massa
(jumlah besar yang menjadi satu kesatuan).
Hiponimi dan Hipernimi
Hiponimi adalah ‘relasi makna yang berkaitan dengan peliputan makna
spesifik dalam makna generis, seperti makna anggrek dalam makna bunga, makna
kucing dalam makna binatang’. Anggrek, mawar, dan tulip berhiponimi dengan
bunga, sedangkan kucing, kambing, dan kuda berhiponimi dengan binatang. Bunga
merupakan superordinat (hipernimi, hiperonim) bagi anggrek, mawar, dan tulip,
sedangkan binatang menjadi superordinat bagi kucing, kambing, dan kuda.
Polisemi
Polisemi lazim diartikan sebagai satuan bahasa (terutama kata, bisa juga
frase) yang memiliki makna lebih dari satu. Umpamanya kata kepala dalam bahasa
Indonesia memiliki makna (1) bagian tubuh dari leher ke atas; (2) bagian dari
suatu yang terletak disebelah atas atau depan merupakan hal yang penting atau
terutama seperti pada kepala susu, kepala meja, dan kepala
kereta api; (3) bagian dari suatu yang berbentuk bulat seperti kepala,
seperti pada kepala paku dan kepala jarum; (4) pemimpin atau
ketua seperti pada kepala sekolah, kepala kantor, dan kepala
stasiun; (5) jiwa atau orang seperti dalam kalimat Setiap kepala
menerima bantuan Rp 5000,-.; dan (6) akal budi seperti dalam kalimat, Badannya
besar tetapi kepalanya kosong.
Ambiguitas
Ambiguitas atau ketaksaab sering diartikan sebagai kata yang bermakna ganda
atau mendua arti. Kegandaan makna dalam ambiguitas berasal dari satuan
gramatikal yang lebih besar, yaitu frase atau kalimat dan terjadi sebagai
akibat penafsiran struktur gramatikal yang berbeda. Umpamanya frase buku
sejarah baru dapat ditafsirkan sebagai (1) buku sejarah itu baru terbit,
(2) buku itu berisi sejarah zaman baru.
Redundansi
Istilah redundansi sering diartikan sebagai ’berlebih-lebihan pemakaian
unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran’. Umpamanya kalimat Bola ditendang Si
Badrih, maknanya tidak akan berubah bila dikatakan Bola ditendang oleh Si
Badrih. Pemakaian kata oleh pada kalimat kedua dianggap sebagai sesuatu yang
redundansi, yang berlebih-lebihan dan sebenarnya tidak perlu.
Meronimi
Meronimi adalah ’relasi makna yang memiliki kemiripan dengan hiponimi
karena relasi maknanya bersifat hierarkis, namun tidak menyiratkan pelibatan
searah, tetapi merupakan relasi makna bagian dengan keseluruhan’. Contohnya adalah
atap bermeronimi dengan rumah.
Makna Asosiatif
Makna asosiatif merupakan asosiasi yang muncul dalam benak seseorang jika
mendengar kata tertentu. Asosiasi ini dipengaruhi unsur-unsur psikis,
pengetahuan dan pengalaman seseorang. Oleh karena itu, makna asosiatif terutama
dikaji bidang psikolinguistik. Makna denotatif villa adalah ’rumah
peristirahatan di luar kota’. Selain makna denotatif itu, bagi kebanyakan orang
Indonesia villa juga mengandung makna asosiatif ’gunung’, ’alam’, ’pedesaan’,
’sungai’, bergantung pada pengalaman seseorang.
Makna Afektif
Makna afektif berkaitan dengan perasaan seseorang jika mendengar atau
membaca kata tertentu. Perasaan yang muncul dapat positif atau negatif. Kata
jujur, rendah hati, dan bijaksana menimbulkan makna afektif yang positif,
sedangkan korupsi dan kolusi menimbulkan makna afektif yang negatif.
Makna Etimologis
Makna etimologis berbeda dengan makna leksikal karena berkaitan dengan
asal-usul kata dan perubahan makna kata dilihat dari aspek sejarah kata. Makna
etimologis suatu kata mencerminkan perubahan yang terjadi dengan kata tertentu.
Melalui perubahan makna kata, dapat ditelusuri perubahan nilai, norma, keadaan
sosial-politik, dan keadaan ekonomi suatu masyarakat.
Daftar Pustaka
Cahyono, Bambang Yudi. 1994. Kristal-Kristal Ilmu Bahasa. Surabaya:
Airlangga University Press.
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Chaer, Abdul. 1994. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka
Cipta.
Kushartanti, Untung Yuwono, dan Multamia RMT Lauder. 2005. Pesona Bahasa
Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Sumber: susandi.wordpress.com
Sumber: susandi.wordpress.com
could you explain about Conceptual and Associative and give me some example. Thanks.
BalasHapusWhat is etimology???Sorry tika. Why the your blog emmmm speak Indonesia??
BalasHapusHii Tika, could you give me the example of intralingual and extralingual? Thank you 😊
BalasHapusHi tika,could you tell me about meronimi? And give more example. Thanks
BalasHapusHi tika,could you tell me about meronimi? And give more example. Thanks
BalasHapushi tika,could you explain about (intralingual) and (ekstralingual),and give me the examle.thnks
BalasHapusTika, could you give me some examples about "makna etimologis" ?, thanks
BalasHapushi, could you give more explain about theory of semantics according to Ogden and Richards (1923)? Thanks
BalasHapusHi, you have many point here, can you make it become more spesific, so we can understand it more easily
BalasHapuscan you explain more about Hiponimi dan Hipernimi?, i still confused
BalasHapusOke tika nica blog. Dan saya ingin bertanya bagaimana kah penerapan semantik dlm kehidupan sehari-hari?
BalasHapustika, please explain me more about makna etimologis and give some examples? thanks
BalasHapusHi tika ,your blog make me little bit confused
BalasHapusHi tika, please selain more to me about hyponym! Thank you
BalasHapusok tika. bisakah kamu menjelaskan secara detail perbedaan makna dan arti ?
BalasHapusKenapa Makna leksikal biasanya dipertentangkan dengan makna gramatikal ? Could you tell me please
BalasHapusOk tika tlng berikan cantoh dari setiapa jenis makna agar saya lebih mengerti.. trimakasih
BalasHapusOk tika tlng berikan cantoh dari setiapa jenis makna agar saya lebih mengerti.. trimakasih
BalasHapusHi tika thank you for your presentation,but why dont you explain about reference meanwhile it is included on your materi today. Thank you
BalasHapusHii tika, I'm still not understand abiut etimology meaning. Can you explain me more about that? And please give me the examples.. Thank you
BalasHapusHii tika, I'm still not understand abiut etimology meaning. Can you explain me more about that? And please give me the examples.. Thank you
BalasHapusHii tika, I'm still not understand abiut etimology meaning. Can you explain me more about that? And please give me the examples.. Thank you
BalasHapusHi Tika thank you for your presentation about semantics , but could you explain to me about this sentence "tetapi hitam dan putih mungkin merupakan contoh yang hanya berkontras." ? thank you :)
BalasHapus